Sejarah Pendidikan
Jasmani (Penjas) mencakup evolusi aktivitas fisik manusia dari sekadar naluri
bertahan hidup di zaman kuno hingga menjadi disiplin ilmu pendidikan yang
terstruktur di era modern. Perkembangan ini terjadi baik secara global maupun
di Indonesia.
Sejarah Pendidikan
Jasmani di Dunia
Sejarah penjas dapat
dibagi menjadi beberapa periode utama:
A. Zaman Kuno
Yunani Kuno: Dianggap
sebagai tempat kelahiran pendidikan jasmani formal. Aktivitas fisik (gulat,
lari, lempar lembing) sangat dihargai untuk tujuan militer, estetika, dan
kesehatan holistik, yang berpuncak pada Olimpiade Kuno.
Romawi Kuno: Penjas lebih
berfokus pada pelatihan militer untuk menciptakan tentara yang kuat dan
disiplin. Nilai-nilai estetika Yunani cenderung ditinggalkan demi efisiensi
perang.
Asia (Cina & Jepang):
Di Cina kuno, bentuk senam digunakan untuk kesehatan dan pengobatan, sementara
di Jepang, latihan fisik dan militer (seperti seni bela diri) ditekankan untuk
membentuk prajurit yang kuat.
Abad Pertengahan hingga
Renaisans
Pada Abad Pertengahan,
penjas mengalami kemunduran karena pengaruh kuat gereja yang menekankan aspek
spiritual daripada fisik. Namun, pada masa Renaisans dan Reformasi, terjadi
kebangkitan minat terhadap tubuh manusia dan kesehatan fisik sebagai bagian
dari pendidikan yang seimbang.
Era Modern (Abad ke-18
dan ke-19)
Pendidikan jasmani mulai
masuk ke dalam kurikulum sekolah formal di Eropa, terutama melalui sistem yang
dikembangkan di Jerman, Swedia, dan Inggris, dengan tujuan kesehatan, disiplin,
dan persiapan militer.
Friedrich Jahn (Jerman)
mengembangkan gerakan senam (Turnen) untuk kekuatan nasionalisme dan kekuatan
fisik.
Per Henrik Ling (Swedia)
menciptakan sistem senam ilmiah yang berfokus pada aspek medis dan fisiologis.
Sejarah Pendidikan
Jasmani di Indonesia
Perkembangan penjas di
Indonesia sangat dipengaruhi oleh dinamika politik dan penjajahan.
Masa Penjajahan Belanda
Pemerintah kolonial
Belanda memperkenalkan olahraga dan pendidikan jasmani gaya Barat. Olahraga
seperti sepak bola, bulu tangkis, dan tenis mulai populer. Fokus utamanya
sering kali bersifat rekreatif bagi kalangan elit atau untuk menjaga kebugaran
pegawai Belanda. Istilah yang digunakan saat itu sering kali adalah "gerak
badan".
Masa Penjajahan Jepang
Pada masa ini, latihan
fisik menjadi wajib dan sangat terstruktur. Tujuannya adalah untuk indoktrinasi
politik dan persiapan militer, seperti yang terlihat dalam latihan
baris-berbaris dan senam massal.
Era Kemerdekaan
Setelah proklamasi
kemerdekaan, pendidikan jasmani menjadi bagian integral dari sistem pendidikan
nasional Indonesia.
Periode 1945–1950:
Istilah yang digunakan adalah "Gerak Badan". Tujuannya untuk
pembentukan karakter bangsa dan persiapan fisik angkatan perang.
Periode Selanjutnya:
Terjadi beberapa kali perubahan nomenklatur, dari "Pendidikan
Jasmani" (1950-an) menjadi "Olahraga" (1960-an), kemudian
"Pendidikan Olahraga dan Kesehatan", hingga kembali menjadi
Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) yang kita kenal sekarang, atau
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) dalam kurikulum saat ini.
Pengembangan Program:
Pemerintah memperkenalkan program-program seperti Senam Kesegaran Jasmani (SKJ)
pada tahun 1970-an untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara luas.
Secara ringkas, sejarah
pendidikan jasmani menunjukkan pergeseran fokus dari tujuan militer dan naluri
bertahan hidup menuju pendekatan pendidikan yang komprehensif, yang menekankan
kesehatan fisik, mental, sosial, dan pengembangan karakter melalui aktivitas
fisik.
Ilmu Dasar Pendidikan
Jasmani (Penjas) adalah fondasi teoretis dan praktis yang digunakan untuk
memahami, merancang, dan melaksanakan aktivitas fisik serta olahraga. Penjas
bukan hanya soal bermain atau berolahraga, tetapi melibatkan berbagai disiplin
ilmu untuk mencapai tujuan pendidikan yang holistik.
Berikut adalah beberapa
ilmu dasar utama yang menjadi pilar dalam Pendidikan Jasmani:
1. Anatomi Manusia (Human
Anatomy)
Anatomi mempelajari
struktur tubuh manusia. Dalam penjas, pengetahuan anatomi sangat penting untuk
memahami bagaimana otot, tulang, sendi, dan organ bekerja sama saat bergerak.
Ini membantu guru atau pelatih dalam:
Menganalisis Gerakan:
Memahami gerakan yang efisien dan aman.
Pencegahan Cedera:
Mengetahui batas kemampuan struktur tubuh dan posisi yang berisiko.
2. Fisiologi Olahraga
(Exercise Physiology)
Fisiologi olahraga adalah
studi tentang bagaimana tubuh merespons, beradaptasi, dan berfungsi selama dan
setelah aktivitas fisik. Ini mencakup pemahaman tentang:
Sistem Kardiovaskular:
Bagaimana jantung dan paru-paru bekerja saat berolahraga.
Metabolisme Energi:
Proses tubuh menghasilkan energi (ATP) untuk aktivitas fisik.
Adaptasi Latihan:
Bagaimana tubuh menjadi lebih kuat, lebih cepat, atau lebih tahan lama melalui
latihan rutin.
3. Kinesiologi dan
Biomekanika (Kinesiology and Biomechanics)
Kinesiologi: Ilmu yang
mempelajari gerakan manusia secara keseluruhan.
Biomekanika: Menggunakan
prinsip-prinsip fisika (gaya, tuas, momentum) untuk menganalisis gerakan tubuh
manusia.
Ilmu ini membantu
mengoptimalkan teknik olahraga. Misalnya, pelatih renang menggunakan
biomekanika untuk memperbaiki dayungan agar lebih efisien dan mengurangi
hambatan air.
4. Psikologi Olahraga
(Sport Psychology)
Aspek mental sama
pentingnya dengan aspek fisik. Psikologi olahraga mempelajari perilaku manusia
dalam konteks olahraga dan aktivitas fisik. Ini mencakup:
Motivasi: Faktor-faktor
yang mendorong partisipasi dan ketekunan.
Kecemasan dan Stres:
Pengelolaan tekanan kompetisi.
Dinamika Tim: Interaksi
dan kepemimpinan dalam kelompok.
5. Pedagogi Olahraga
(Sport Pedagogy)
Ini adalah ilmu tentang
cara mengajar dan mendidik dalam konteks pendidikan jasmani dan olahraga.
Pedagogi olahraga fokus pada:
Metode Pengajaran: Cara
efektif menyampaikan materi aktivitas fisik.
Pengembangan Kurikulum:
Merancang program pembelajaran penjas yang sesuai usia dan tujuan.
Manajemen Kelas:
Menciptakan lingkungan belajar yang positif dan aman di lapangan atau gym.
6. Sosiologi Olahraga
(Sport Sociology)
Sosiologi olahraga
memeriksa hubungan antara olahraga dan masyarakat, serta peran olahraga dalam
budaya. Ini membahas topik seperti:
Nilai Sosial: Fair play,
kerja sama, dan etika.
Inklusi dan Eksklusi: Isu
gender, ras, dan kelas sosial dalam partisipasi olahraga.
Olahraga sebagai
Institusi: Peran olahraga dalam masyarakat yang lebih luas.
Ringkasan
Ilmu dasar penjas ini
saling terkait dan memberikan pemahaman yang komprehensif bahwa Pendidikan
Jasmani adalah disiplin ilmu yang kaya dan multidimensi, bertujuan untuk
mengembangkan individu secara fisik, mental, emosional, dan sosial melalui
gerakan dan aktivitas fisik.

.jpg)
0 Comments:
Posting Komentar